Friday, March 23, 2007

Flyer KabaretJo Maret'07

Thursday, March 15, 2007

Aktor Nagabonar Jadi 2 Menulis Naskah


Uli Herdinansyah, presenter Insert yang tahun lalu bersama
Fauzy Baadilah, Marcella Zalianti,dan Dina Wowor bermain dalam pertunjukan musikal Freakin’ Crazy You, tahun 2007 ini kembali bakal terlibat dalam pertunjukan produksi EKI Production yang berjudul ‘Miss Kadaluarsa’. Namun kali ini, selain berperan sebagai dokter, Uli juga menulis naskah bersama-sama dengan Aiko Senosoenoto dan Alim Sudio.

Sebagai pengalaman pertama kali, tentu saja hal ini bukanlah hal yang mudah bagi mantan penyiar HardRock FM ini. ”Menjadi bagian dari tim penulis naskah Miss Kadaluarsa ini menguras air mata,keringat dan penuh darah.Tapi bikin ketagihan”,kata aktor yang baru saja menyelesaikan film Naga Bonar Jadi Dua ini.

Untuk menulis naskah yang makan waktu hampir setahun ini Uli mengaku sempat melakukan banyak riset, termasuk ke sejumlah tempat dugem.”Untung risetnya menyenangkan”, katanya menutup pembicaraan.

Valentine di KabaretJo

Calon Gubernur, fotografer handal, juru bicara presiden, penyiar kocak dan sejumlah aktris dan penyanyi telah ikut menjadi bintang di KabaretJo-Ketawa Bareng Sujiwo Tejo. Malah Erros Djarot, bintang tamu KabaretJo edisi bulan Februari 2007 meramalkan Sujiwo Tejo bakal masuk surga. Memangnya ada apa di KabaretJo Februari lalu?

Banjir yang sempat nyaris menenggelamkan sebagian wilayah Jakarta, membuat penyelenggaraan KabaretJo-ketawa Bareng Sujiwo Tejo yang semula diadakan tangal 14 Februari,-bertepatan dengan hari valentine mundur ke tangal 21 Februari. Namun hasrat penggemar KabaretJo-Ketawa Bareng Sujiwo Tejo tidak menciut walau dihadang banjir. Tetap saja tiket pertunjukan malam itu, habis terjual.


Tema yang diangkatpun tidak berubah, tetap mengupas soal romantisme. Kali ini masalah dibuka dengan Nala yang sepertinya mulai suka dengan teman lawan jenisnya dan menganggap sebatang coklat pemberian temannya sebagai sesuatu yang romantis. Padahal buat bapaknya, hal itu tidak ada hubungannya dengan romantisme. Bukan cuma Nala dan Bapaknya yang tidak sepakat soal Romantisme. Tapi ada juga sepasang kekasih yang ribut karena menilai kekasihnya tidak romantis.”Masak hari valentine ngasih Voucher, lelaki lain kasih ke pacarnya bunga atau makan malam yang romanis, gitu...” kata seoang wanita dengan setengah merengek. Namun pacarnya tidak mau kalah, ”Dengan Voucher itu kamu bisa beli bunga, 1 truk! ”


Soal romantisme ini juga yang sempat dibahas dalam sesi bincang-bincang dengan budayawan sekaligus politisi, Erros Djarot. Bagai pertemuan dua sahabat lama, Sujiwo Tejo dan Erros Djarot saling membuka rahasia satu sama lain. ”Erros ini, pernah mengaku kepada salah satu wanita, bahwa sebuah lagu diciptakan untuk wanita tersebut. Belakangan saya tahu, dia ucapkan hal itu kepada 2(dua) wanita lainnya”, ungkap Sujiwo Tejo yang langsung ditanggapi dengan sorak penonton. Erros yang ’dikuliti’ , hanya bisa tertawa-tawa saja.

Malam itu, romantis bukan cuma diangkat jadi pembicaraan, tapi juga adegan teater, kisah wayang hingga tarian. Hingga musik penutup dimainkan, sejumlah penontn tampak tidak mau segera pergi, masih tampak saling berbincang dan berbagi kesan yang ada. Ini juga romantis? Wah, sebaiknya kita tunggu saja pertunjukan yang akan datang pada tanggal 28 Maret 2007.

Wednesday, February 14, 2007

Pementasan dan Open House Studio art I art

Monday, February 12, 2007

Bengawan Solo & Sukiyaki dalam Wayang

Tahukah anda, lagu Jepang yang paling terkenal di Indonesia? Sebaliknya, lagu Indonesia yang paling terkenal di Jepang? Jawabannya ada pada pentas wayang interaktif Sujiwo Tejo, yang digelar pada peluncuran Hankyu International Transport Indonesia di Viky Sianipar Music Centre, pada 29 Januari lalu.

Cerita yang diangkat adalah mengenai dua kerajaan dari Jepang dan Indonesia yang ingin bekerja sama. Tokoh-tokoh wayang dari kedua kerajaan tersebutpun saling mengadu kehebatan. Untungnya yang menjadi ajang kehebatan, bukanlah perang. Tapi, ”Kerajaan Jepang harus tahu lagu Indonesia yang populer di Jepang, sebaliknya Kerajaan Indonesia juga harus tahu lagu Jepang yang terkenal di Indonesia”. Setelah melewati saling tebak lagu yang seru, akhirnya mereka jadi bekerjasama karena satu sama lain berhasil memecahkan teka-teki tersebut. Lagu Indonesia yang terkenal di Jepang adalah Bengawan Solo, sedangkan Lagu Jepang yang terkenal di Indonesia adalah Sukiyaki. Pertunjukan wayang berdurasi tidak kurang dari 30 menit itu yang dibawakan dalam bahasa Jawa campur Inggris tersebut membuat seluruh tamu undangan terhibur.

Selain pertunjukan wayang, malam itu EKI Dance Company juga ikut tampil dengan membawakan 3 tarian, yaitu Sakura, Es Lilin, dan Journey To Deli. Selain Sakura, dua tarian tersebut mengambil musik dari album Indonesian Beauty karya Viky Sianipar, yang malam itu mengiringi tarian-tarian tersebut. (Juju)

Saturday, February 10, 2007

Cooming Soon! KabaretJo Pebruari 2007

KabaretJo: Sujiwo Tejo Kawin lagi?

Apa yang perlu diperhitungkan jika duda ingin menikah lagi? Tema sederhana, penuh tawa dan menawarkan makna.

Saya sangat terkesan dengan KabaretJo, karena selain tariannya temanya juga sangat lain. Walau mengangkat soal orang tua yang ingin menikah lagi, namun dalam KabaretJo ini anak turut diikutsertakan dalam pengambilan keputusan”, kata Ayuditha, seorang penonton SMA kelas 1 Al-Azhar yang mengaku baru pertama kali menonton KabaretJo.

KabaretJo edisi tanggal 24 Januari 2007 lalu menghadirkan tokoh Titi, perempuan yang mengantar Nala pulang dari shooting sebuah iklan. Setelah bertemu dengan Sujiwo Tejo,Bapak Nala,ternyata Titi pernah kenal dan kerja bareng dengan Sujiwo tejo dalam sebuah acara TV. Jika biasanya Nala menolak wanita yang dekat dengan bapaknya,namun kini malah cenderung ‘menjodohkan’. Mungkin karena selain baik dan nyambung kalau ngobroldengan Nala, Titi juga mirip dengan mendiang ibunya.

Akankah Sujiwo Tejo mengakhiri masa mendudanya?

Keputusan ini disela beberapa adegan lain,seperti talkshow dengan Fotografer senior yang juga seorang duda, Darwis Triadi. “Jadi duda tidak enak, karena banyak yang ‘ngrasani’(ngomongin),” katanya ketika ditanya rasanya jadi duda oleh Sujiwo Tejo.

Tidak kurang dengan Darwis Triadi, Sujiwo Tejo sempat curhat kepada Arie Dagienk dan Sita,-adiknya. KabaretJo ditutup dengan obrolan antara bapak dan anak, yang mendiskusikan apa saja yang perlu diperhitungkan jika seorang bapak ingin menikah lagi.

KabertJo,telah 5(lima) kali rutin digelar setiap bulan di Viky
Sianipar Music Centre. Tidak kurang 1000 penonton telah menikmati pertunjukan yang memadukan tari,teater,musik dan tentu saja cerita yang kesemuanya digarap dengan sarat hiburan dan inspiratif! Tidak heran jika sejumlah milis memperbincangkan KabaretJo sebagai salah satu tempat nongkrong baru bagi profesional muda yang ingin hiburan beda! (Iwan)

Artikel ini dipersembahkan oleh,



Sunday, January 21, 2007

Info KabaretJo

Wednesday, January 17, 2007

Nala Main Sinetron!

Jika anda penggemar KabaretJo – Ketawa Bareng Sujiwo Tejo, pasti tidak asing lagi dengan gadis kecil yang memiliki potongan rambut pendek dan sering berantem dengan ‘ayahnya’ Sujiwo Tejo. Ya, dia adalah Ken Nala Amrytha kini punya kesibukan baru, yaitu main sinetron! Nala bermain dalam miniseri cookies, yang berjudul ‘Jungkir Balik Dunia Sissy” yang ditayangkan setiap hari, sejak tanggal 1 sampai 6 Januari 2007, pukul 18.00 di SCTV.

“Saya sempat diambil gambar untuk menyapu halaman sekolah, wah rasanya seperti dijemur!”, kesan Nala ketika pengambilan gambar sinetron yang naskahnya ditulis Alim Sudio itu. “Namun paling berkesan adalah ketika harus pura-pura muntah, wah bingung deh!”, tambahnya sambil tertawa. (Iwan)

Cikal Bakal Broadway Indonesia


Ungkapan diatas disampaikan Andi Mallarangeng, Jubir Presiden RI yang tanggal 20 Desember 2006 lalu jadi bintang tamu dalam “KabaretJo - Ketawa Bareng Sujiwo Tejo” ketika diwawancarai Trans TV. ”Sebagai pusat dari segala macam aktivitas, Jakarta butuh acara seperti KabaretJo yang menawarkan nilai-nilai sosial dalam kesegaran”, tambah Andi yang malam itu datang bersama istrinya.

“KabaretJo - Ketawa Bareng Sujiwo Tejo” episode Desember lalu selain menghadirkan Andi Mallarangeng juga penyiar radio favorit remaja Arie Dagienk dan Aktris Ine Febriyanti. Kali ini “KabaretJo - Ketawa Bareng Sujiwo Tejo” mengangkat tema liburan yang saat itu bisa jadi sedang ramai direncanakan banyak orang. Namun Nala dan Tejo, yang berbeda generasi ini memiliki pandangan yang berbeda dalam merencanakan liburan. Buat Tejo berlibur adalah melihat-lihat sawah di Bali sambil main seruling, sedangkan buat Nala bisa jadi melihat-lihat ikan di akurium sebagai liburan !

Sedangkan Arie Dagienk tampil sangat menyegarkan dengan membawakan lagu Pada Suatu Ketika dalam aransemen irama cha-dut ala lagu dangdut yang berjudul SMS. “Saya sempat grogi, mengingat lagu tersebut banyak yang menggemari, bahkan kalau ada bencana nasional
seperti Tsunami di Aceh lalu, lagu ini sering diputar karena dianggap membawa pesan yang mendalam buat pendengarnya”, kata Arie Dagienk, mengenai tampilannya malam itu.

Mengulang ‘tradisi’ malam itu tiket pertunjukan “KabaretJo - Ketawa Bareng Sujiwo Tejo” terjual habis, bahkan penonton masih sempat foto bersama dengan Andi Mallarangeng dan mendapat gratis bonus donat Ring Master yang melakukan promosi dengan membag-bagikan donatnya. (Iwan)

Tuesday, December 12, 2006

Info KabaretJo

Wednesday, November 29, 2006

Ada Hantu di KabaretJo

Seorang lelaki dengan muka pucat mengenakan model baju Cina tempo dulu, sesekali tampak di depan pintu menyambut penonton, ikut duduk, antara penonton, bahkan naik ke atas pentas. Ada Hantu di KabaretJo?

K
abaretJo, untuk ketiga kalinya digelar di Viky Sianipar Music Centre, pada tanggal 22 November 2006, pukul 19.00 WIB. Kali ini membawakan cerita seputar Nala menjelang dewasa. Selain itu juga menghadirkan R
osiana Silalahi, pemimpin Redaksi SCTV dan Cornelia Agatha, yang sedang hamil 8 bulan. Cornelia mengaku tidak mudah untuk naik ke panggung dalam keadaan hamil besar seperti itu. “Sebetulnya tidak mudah, tapi di rumah terus juga nggak betah. Lagipula EKI telah menyiapkan semuanya menjadi lebih lancar. Jadwal latihan yang pas, pemilihan peran dan lagu yang bisa saya bawakan, dan lainnya”, katanya.



H
al menarik yang muncul pada KabaretJo ini adalah kemunculan sesosok lelaki tua
berpakaian Cina kuno sejak acara belum dimulai. Ia sesekali berdiri di depan gerbang, menyambut tamu, duduk bergabung dengan penonton lain atau hanya berdiri di pojok tertentu. Tanpa kata, dengan ekspresi yang sangat datar. “Saya bukan takut, tapi kasihan karena sejak saya datang jam 7.15 dia sudah di depan pintu, dengan ekspresi yang sama hingga pentas bubar ”, kata Rosiana Silalahi.

Malam itu Rosiana tampil sangat lepas, ia bicara dalam Bahasa Batak, baca puisi dan masih sempat memberi lelucon. ”Saya rasa perempuan tidak masalah dengan haid, itu hal biasa. Kami beda dengan lelaki yang sunat aja, sudah kesakitan”.

Malam itu, KabaretJo kembali mendulang sukses. Selain tiket terjual habis, penonton juga tampak puas. Seperti diungkapkan Jeruel, yang baru pertama kali nonton KabaretJo. ”Saya sudah kepingin nonton sejak KabaretJo yang pertama. Namun selalu ada rapat. Malam ini, saya terpaksa membatalkan 3 rapat untuk bisa nonton”, kata Jeruel yang keseharian bekerja pada sebah perusahaan media dan konsultan pemasaran ini.

Kalau bulan ini ada setan, yang akan datang ada apa lagi, ya? (Iwan)




Dina Jadi Dokter Gigi?

Belakangan ini, Dina, bintang utama pentas musical produksi EKI Dance Company Freakin’ Crazy You dan mantan penyiar Radio Prambors ini sering dipanggil, “Bu Dokter’ oleh teman-temannya.

Yang dipanggil demikian, tentu saja hanya senyum-senyum saja.”Saya membintangi iklan Bank Niaga. Dalam iklan tersebut saya berperan sebagai Dokter Gigi”, katanya menjelaskan mengenai asal muasal panggilan dokter tersebut. Beberapa teman malah ngeledek dengan dialog saya, “Ayo buka mulunya…”

Wah, senangnya kalau Dokter Gigi secantik Dina, ya ! (Iwan)

Selamatkan Lingkungan Melalui Seni

EKI Dance Company pentaskan ’Ketika Alam Bicara’ dalam acara penganugerahan Kehati Award ke-5 tanggal 16 November 2006 lalu di Sea World, Ancol, Jakarta. Kehati Award adalah pemberian penghargaan tertinggi untuk para insan pendukung pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia yang diprakarsai oleh Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, EKI Dance Company mengemas kepedulian terhadap lingkungan melalui
perpaduan pentas seni tari dan teater. Pentas tersebut melibatkan 9 orang anak-anak yang berperan sebagai murid sekolah yang diajak wisata ke pantai. Namun apa daya, mereka harus kecewa karena pantai tak lagi seindah yang mereka kira. Hal ini dibahas dalam sebuah
talkshow yang ditayangkan sebuah TV swasta yang menghadirkan para pembi
cara seorang peneliti bernama Bayu Sutrisno, Wisanggeni seorang paranormal dan Kiki Dunung seorang
punggawa lingkungan. Mereka membahas masalah lingkungan hidup terutama la
ut yang kian rusak karena ulah manusia. Perdebatan semakin seru dengan hadirnya para penghuni laut yang dimunculkan oleh Wisanggeni selaku mediator dengan alam bawah laut. Berbagai fenomena serta kejadian yang dialami penghuni laut, kecemasan akan alam yang sudah kian tereksploitasi oleh manusia serta upaya mereka menyadarkan manusia dengan segala fenomena alam, digambarkan dengan gamblang.

Dalam sajian teater tari ini, pesan penyelamatan lingkungan, terutama kepedulian pada potensi kelautan Indonesia tersebut disampaikan dengan jelas, ringan sekaligus menyentuh. Rachmat Witoelar, selaku Menteri KLH mengaku sangat tergugah dengan pertunjukan tersebut. ” Pesan-pesannya sangat jelas, menghibur pula”, katanya. (Juju)

Sunday, November 19, 2006

KabaretJo Feat. Cornelia Agatha & Rosiana Silalhi

Tuesday, October 31, 2006

WEWE DI LA PIAZZA

Siapa Bilang cuma pekerjaan macam dokter atau pemadam kebakaran saja yang harus siap kalau dibutuhkan kapan saja? Hendy ‘Wewe’ Leonathan, personil EKI Dance Company yang memegang peran utama dalam Musikal ‘China Moon’ membuktikan bahwa menjadi seniman pun harus siap setiap saat. Jika diantara anda ada yang sempat menyaksikan aksi Wewe, dalam konser musik Sujiwo Tejo di acara Urban Sound of Jazz at La Piazza, 21 Oktober 2006 yang lalu, mungkin anda tidak tahu bahwa dalam hati Wewe penuh teka-teki.

“Saya tidak tahu diminta apa diatas panggung.Mas Tejo cuma minta aku naik, kalau dipanggil “ tutur Wewe . Ia mengaku sempat bingung karena mas Tejo sama sekali tidak memberi petunjuk ia harus berlaku apa. “Tapi saya merasa, harus siap selalu dan percaya saja dengan Mas Tejo, “tambahnya, yang ternyata pada malam itu ia bukan cuma berperan menjadi penjual baju, tapi juga mengajak penonton ikut menyanyi hingga joget dangdut.Walau dalam hatinya mungkin Wewe merasa tegang , namun di atas pentas malam itu ia tampak prima dan tidak kehabisan gaya dan pertunjukan malam itu pun jadi tambah seru!

Sunday, October 29, 2006

OPEN HOUSE art I art



Saturday, October 28, 2006

KabaretJo Mudik

Mimi Mudik, Tejo Panik

M
udik, bisa jadi sudah tradisi kabanyakan orang, tidak terkecuali Mimi,-pembantu Tejo. Pertanyaannya, siap
a dan bagaimana Tejo mengurus Nala, anak perempuan semata wayangnya tersebut ?

KabaretJo, pada tampilan kedua kali yang diadakan pertengahan puasa mengangkat kisah Mimi yang kepingin pulang, dalam rangka menjelang Lebaran. Hal ini bukan cuma bikin sedih Nala, tapi juga membuat Tejo panik. la sedih, karena kehilangan pengasuh sekaligus teman bermainnya. Sedangkan Tejo, jelas panik karena nggak tahu siapa yang bakal mengurus dirinya dan tentu saja Nala.

Namun hal tersebut tidak ditampakkan oleh Tejo. Apalagi di hadapan Mimi. ”Bapak bisa mengurus kamu dan diri sendiri, lebih dari 5 tahun Bapakmu tinggal di kost dan mengurus diri sendiri ”, katanya. Namun nyatanya, Tejo telah membuat sop buntut goreng yang hangus serta menciutkan baju Nala, di kala mencucinya.

KabaretJo adalah pertunjukan bulanan yang mengggali dan menyajikan kemampu
an Sujiwo Tejo dalam menyanyi, berakting dan pewawancara. Hadir juga dalam KabertJo karakter yang membuat panggung lebih berwarna, seperti Nala Amrytha, yang berperan sebagai anaknya dan Mimi,berperan sebagai pembantunya. Dalam setiap tampilan selalu menghadirkan dua bintang tamu, satu dari kalangan sesama artis dan yang lainnya seorang tokoh masyarakat.Tidak ketinggalan, tentu saja sajian tarian karya Rusdy Rukmarata yang dibawakan oleh para penari EKI Dance Company.

Dalam kesempatan Kamis, 12 Oktober 2006 lalu, KabaretJo menampilkan bintang tamu Shanty dan Ir. Sarwono Kusumaatmadja. Mulai dari saling ledek mengenai profesi pacar Shanty, sutradara Videoklip yang dianggap musiman hingga Sarwono yang mengisahkan kebiasaan di rumah yang tidak lagi menggunakan pembantu.”Bersama istri dan anak-anak, saya membagi tugas untuk mencuci hingga memasak”, katanya. Sedangkan Shanty, selain berperan sebagai bibi Nala, juga menyanyikan lagu Es Lilin yang diaransemen ulang oleh Viky Sianpiar. Tampil juga diatas panggung Takako Leen sebagai penari dalam tampilan kala Shanty menyanyi.

Pada tampilan kedua ini, tampaknya secara perlahan KabaretJo mulai membentuk komunitas penonton seni panggung yang baru. Hal ini tampak dari beberapa penonton yang setia mengikuti setiap kali KabaretJo digelar. Didik, seorang fotografer yang juga bekerja pada sebuah biro iklan menganggap KabaretJo sebagai tontonan yang unik, sekaligus murah. ”Pertunjukan teater yang segar, namun tetap memiliki pesan didalamnya. Apalagi ada tarian dan cerita wayang juga, menyegarkan mata sekaligus membuka wawasan, ” katanya.

Selain cerita duda yang selalu direpotkan dengan anak semata wayangnya tersebut, KabaretJo memang senantiasa menyelipkan cerita wayang yang dikemas dalam sajian teatrikal. Kali ini kisah yang diangkat adalah hubungan kakak-adik, Sumantri dan Sukrasana. Sumantri digambarkan sebagai ksatria yang tampan dan gagah. Sebaliknya, Sukrasana walau lebih sakti, namun memiliki wajah yang menyeramkan dan tubuhnya pun cebol.

Sumantri meminta bantuan adiknya, ketika Arjuna Sasrabahu memintanya memind
ahkan taman Sriwedari yang berada di negri di atas awan. Sukrasana menyanggupi, asal diperbolehkan selalu bersama Sumantri. Namun ketika taman berhasil dipindahkan, Sukrasana malah mati dipanah oleh Sumantri, kakaknya sendiri.Waktu itu Sukrasana sedang berjalan-jalan di taman, namun keberadaannya telah membuat Dewi Citrawati dan para embannya ketakutan. Sumantri mencoba mengusir adiknya sendiri dengan menakut-nakuti akan dipanah, jika tidak segera pergi. Namun apa daya, panah tersebut terlepas dan langsung menancap di tubuh Sukrasana. Sukrasana pun tewas. Kisah ini dibawakan dalam semangat main-main yang tinggi, menggunakan makanan seperti donat sebagai media bercerita tanpa mengurangi keharuan dan pesan yang disampaikan.

KabaretJo masih akan digelar bulan November 2006 yang akan datang, dengan kisah dan tamu yang dipastikan menarik dan penuh kejutan. (Seti)

Tuesday, October 03, 2006

KabaretJo EPISODE 2

Monday, October 02, 2006

Satu Lagi Dari Sujiwo Tejo

Pada tanggal 13 September 2006 lalu, EKI Production kembali menggelar sebuah pertunjukan inovatif yang memadukan musik-lagu, teater dan tari hingga talkshow dalam satu kemasan. “KabaretJo”, nama program tersebut.

Dalam durasi tidak kurang dari 90 menit tersebut, KabaretJo menggali dan menyajikan sisi lain Sujiwo Tejo yang diatas panggung berperan sebagai duda beranak satu,-yang menjadi anaknya adalah Nala. Buat Nala, sebelumnya juga menjadi anak Sujiwo Tejo pada pertunjukan musical Battle of Love. Sebagai seorang ayah, Sujiwo Tejo jauh dari otoriter dan galak.Sebaliknya, Nala malah sering iseg kepada Ayahnya, terutama kalau ayahnya sedang mendekati perempuan. “Hubungan orangtua antara saya dan anak saya, dibuat lebih terbuka dan demokratis”, jelas Sujiwo Tejo. Selain berakting, Sujiwo tejo juga menyanyikan lagu yang sempat dipopulerkan Frank Sinatra, yaitu Fly Me to The Moon. “Saya sangat suka lagu ini, tapi juga takut tiba-tiba di panggung malah lupa liriknya”, kata Sujiwo Tejo di kala persiapan.

Untunglah ketika pentas, semua berjalan mulus. Lebih dari 150-an penonton merasa puas,karena pertunjukan malam itu mampu memberikan emosi yang beragam. “Saya terkesan dengan wawancara dengan Kepala Harian Badan Narkotika Nasional , Komisaris Jendral Togar Sianipar. Terutama ketika ia menyatakan mengenai keponakannya yang ternyata juga terkena Narkoba.Sangat menyentuh”, kata Andy, seorang praktisi Iklan.



Malam itu, selain Komisaris Jendral Togar Sianipar, KabaretJo juga menampilkan Maudy Koesnady, Takako Leen, dan EKI Dance Company. Tantri, seorang penonton setia EKI mengaku sangat senang dengan bagian tari, yang dibawakan oleh Takako. “Saya dapat merasakan emosi dan benar-benar merasakan indahnya tarian tersebut”, katanya.

Buat Anda yang tidak sempat menyaksikan KabaretJo edisi perdana, jangan bersedih. Karena tanggal 12 Oktober 2006 yang akan datang, KabertJo episode ke-2 kembali akan digelar. So Don’t Miss it !

Rahasia dari Dapur EKI

Sudah lebih dari 2 bulan belakangan ini, Studio EKI sedang mempersiapkan sebuah pertunjukan Musikal terbaru yang sedianya akan digelar bulan Februari tahun depan (2007) selama 7 hari ! Mengapa pertunjukan kali ini begitu lama persiapannya ?

Alim Sudio, yang membantu menyiapkan skenario Miss Kadaluwarsa bersama dengan Aiko Senoenoto dan Uli Herdinansyah, menyatakan bahwa waktu persiapan yang lama memungkinkan terjadinya proses try out yang berulang-ulang sehingga nantinya bisa melahirkan skrip yang lebih ‘bernyawa’, utuh dan solid.

Saat ini setiap hari Selasa dan Kamis akan ada kegiatan yang diberi nama script lab. “Dalam kesempatan tersebut draft skenario dibaca, dicoba adegannya dan dibahas bersama", jelas Alim Sudio mengenai script lab tersebut. Adapun sejumlah pemain yang mengikuti lab tersebut, selain personil EKI Dance Company, artis lain yang ikut latihan adalah Uli Herdinansyah, Indra Herlambang, Antrie, Sita, Madina, Netta, Ingrid Widjanarko dan lainnya.
Berbagai hal menarik terjadi di ruang latihan tersebut. Mulai dari membaca puisi, memainkan karakter tertentu dan tentu saja tidak ketinggalan Body Conditioning. Proses masih panjang dan ikuti terus perjalanan menuju pertunjukan Musikal EKI terbaru, Februari tahun depan !

Monday, August 14, 2006

Siswanto ‘Kojack’ Kodrata di Festival International ”Schowburg”

Siswanto ‘Kojack’ Kodrata, salah satu penari utama EKI Dance Company menjadi penari dalam Koreografi Farida Oetoyo, dibawah bendera Kreativitat Dance-Indonesia. “Sebetulnya ini sudah beberapa kali saya ikutan Kreativitat, namun baru kali ini menari dalam koreografi Tante Fari," katanya. Sebelumnya Kojack pernah ikut dalam tarian koreografi Jurgen Otte dan Dislav Zielinski.

Koreografi yang berjudul Serdtse(Denyut Kehidupan) yang musiknya dikerjakan oleh Aksan Sjuman ini akan dipentaskan tanggal 2 September 2006, dalam ajang Festival "Schowburg" Gedung Kesenian Jakarta International Festival 2006. “Saya berpasangan dengan seorang penari asal Jepang, jadi setiap proses(pertunjukan) adalah pengalaman baru," kata penari yang juga berperan sebagai Aria dalam Musical Freakin’ Crazy You, 29 Maret-1 April lalu.

MADINA MENDAPAT Pesan dari Surga

Masih ingat Jade, tokoh utama dalam pertunjukan Drama Tari Musikal FREAKIN’ CRAZY YOU produksi EKI Dance Company pada tanggal 29 Maret – 1 April 2006 yang lalu? Satu diantara dua orang yang memerankan tokoh itu selain Marcella Zalianty adalah Madina.

Madina, mantan penyiar radio Prambors yang sekarang ditangani manajemen EKI Production itu mendapat Pesan dari Surga lewat arahan Sekar Ayu Asmara. Namun bukan arahan spiritual tapi arahan untuk film layar lebar yang berjudul Pesan dari Surga. Madina dalam film itu berperan sebagai seorang penari modern bernama Erlita. Karakternya, “Diam-diam tapi menggigit”, jelas Madina sambil tertawa malu. Kenapa menggigit? “Diam-diam selingkuh dengan suami orang,” ujarnya lagi. Film yang selain syuting di Jakarta juga Yogyakarta ini juga bercerita tentang lika-liku kehidupan anak band yang penuh problematika di antara para personilnya

Namun bagi Madina, kesan yang paling mendalam ikutan dalam film itu justru adalah adegan menari hip hop. “Saya memang berangan-angan bisa menari dalam sebuah film,” aku Madina yang sangat menyukai performing art. Sebuah usaha ekstra baginya untuk adegan menari dalam film itu karena harus take berulang-ulang. “Posisiku bergeser tidak sesuai blocking,” jelasnya . Memang latihannya cuma satu hari bersama penari-penari EKI Dance Company sebelum syuting.

Film yang diproduseri oleh Raam Punjabi didukung oleh sejumlah artis seperti Luna Maya, Rianti Cartwright, Vino Bastian, Cathrine Wilson, Uli Herdinansyah, Indra Herlambang, dan lain lain. Bravo Madina, kita tunggu saja waktu rilisnya tanggal 21 Desember 2006 untuk melihat langsung Madina menari. (Joe)


OLEH-OLEH dari SUJIWO TEJO APA ADANYA...


Kelompok Penggemar Sujiwo Tejo (KPST) menggagas konser Sujiwo Tejo di kafe Omah Sendok, pada hari Jumat, 11 Agusutus 2006 lalu. Kafe yang terletak di perumahan jalan Mpu Sendok dan punya area outdoor, ternyata memang pilihan yang cocok buat konser tersebut. Tak heran jika para penonton merasa seperti datang ke undangan pesta taman di rumah teman, kebetulan malam itu Sujiwo Tejo yang berperan sebagai host sekaligus penghibur. Uli Herdinansyah, penyiar Insert (program infotainment di Trans TV), yang malam itu datang bersama temannya beberapa kali berujar, ”Tempatnya enak banget, buat kencan siang atau malam, kayaknya enak neh…”

Bharata Kusuma, penggagas acara yang malam itu menjadi MC, membuka dengan mempersilakan para tamu untuk bertanya apa saja kepada Sujiwo Tejo. Pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya memang sudah ada di hati para penggemar dan menanti untuk disampaikan ketika berhadapan langsung dengan Sujiwo Tejo akhirnya terlontar dan mencairkan suasana. Ada yang menanyakan apa yang ada di pikiran Sujiwo Tejo sehingga bisa menciptakan lagu-lagu se-edan itu, ada pula yang minta untuk diciptakan lagu saat itu juga yang sesuai dengan suasana homey malam itu.

Show malam itu dibuat sebagai rangkaian yang indah antara lagu dan obrolan hingga membuat hadirin ‘tidak merasa’ ketika sampai pada akhir acara. Sujiwo Tejo membawakan tujuh buah lagu yaitu Pada Suatu Ketika dengan aransemen baru, Anyam-Anyaman Nyaman I (duet dengan Netta Kesumah Dewi), Zen-Die, Aku Lala Padamu, Freakin’ Crazy You (bersama Netta Kesumah Dewi, Kenya dan Nala Amrytha), Kalau Aku Presiden (Yai Yo) dan Nadian. Sebagian besar hadirin terlihat ikut bergerak sesuai beat, bahkan tak jarang sambil ikut bernyanyi.

Sapaan-sapaan Sujiwo Tejo terhadap para penggemar mulai dari mantan model Playboy Tiara Lestari, bintang film dan sinetron Marcella Zalianty, presenter dan aktor Uli Herdinansyah hingga wartawan senior seperti Aristides Kattopo dan direktur Trans TV Ishadi SK. Tidak ketinggalan juga mantan backing vocal Sujiwo Tejo, Rini ‘AFI’ dan Reti Mutia (adik Widi AB-Three, red.), membuat suasana bagai reuni. Dan tentu juga sapaan kepada para penggemar fanatik Sujiwo Tejo yang hafal setiap lirik dari lagu-lagu Sujiwo Tejo. Yudisthira, penggemar berat lagu-lagu Sujiwo Tejo, mengaku sepanjang jalan menuju kafe Omah Sendok, ia tidak menyetel musik lain selain lagu-lagu Sujiwo Tejo. “Khusus untuk (lagu berjudul) Zen-Die, saya sudah putar lima kali,“ katanya.

Celetukan-celetukan ala Sujiwo Tejo yang segar dan tetap ‘edan’ membuat tamu undangan tertawa lepas dan tidak tahan untuk membalasnya. Seperti ketika Sujiwo Tejo memperkenalkan penyanyi ABG yang ikut menyanyi dalam lagu Freakin’ Crazy You, yakni Kenya dan Nala. Namun di tengah pertunjukan, karena Nala dan Kenya menyanyi dengan ‘miskin gerak’ Mas Tejo menghentikan pertunjukan seraya berkata, ”Nala, gerak dong, menari atau apalah… Bapak-mu itu ‘kan penari, jangan malu-maluin lho..,” katanya pada Nala, putri kedua koreografer EKI Dance Company, Rusdy Rukmarata.

Ejek-ejekan antara Sujiwo Tejo dan pemain bandnya juga sering memancing tawa tamu undangan. Seperti ketika Sujiwo Tejo memperkenalkan pemain keyboard malam itu, Viky Sianipar yang juga arranger musik dan baru saja merilis album baru Indonesian Beauty. Sujiwo Tejo berpesan pada para penonton, “Kalau bawa uang, beli dulu album aku. Baru kalau ada uang lebih belilah albumnya dia…haha,” sambil menunjuk Viky Sianipar yang tertawa-tawa. Juga tentang hubungan Sujiwo Tejo dan pemain bass Bintang Indrianto (produser album ketiga Sujiwo Tejo Syair Dunia Maya) yang sering naik-turun ganti-ganti antara rukun harmonis dan bertengkar, tapi karena itu justru mereka merasa bagai suami dan istri. Begitu pula dengan Taufan, pemain drum, yang dijuluki Mas Tejo sebagai pengusaha pulsa karena punya side job menjual voucher pulsa.

Di tengah-tengah pertunjukan, Bharata membuka lelang sebuah kaos yang bertuliskan kata-kata tulisan Sujiwo Tejo sendiri berikut tanda tangannya. Dibuka dengan harga lima puluh ribu rupiah, lelang berakhir di harga tiga ratus ribu rupiah. Edannya, sang pemenang lelang kaos adalah seorang perempuan fans Sujiwo Tejo yang ikutan lelang via telpon karena dirinya tidak bisa datang karena masih terbaring di rumah sakit. Dan terjuallah kaos bertuliskan “Daripada telor setengah masak, lebih enak telor setengah masuk” dengan harga 300 ribu perak!

Acara pun berakhir dengan harapan Kelompok Penggemar Sujiwo Tejo (KPST), yang menggagas acara tersebut, kembali menggelar acara-acara seperti malam itu, entah kapan dan dimana… Kita sama-sama tunggu aja deh! (helen)

untuk melihat komentar tentang pertunjukan ini di media lain, silakan klik disini

Friday, July 28, 2006

AUDISI PENARI

EKI Dance Company akan membuka peluang bagi rekan-rekan yang berminat untuk menjadi penari dan bergabung bersama EKI Dance Company.


Audisi akan diadakan pada:

Hari/Tanggal : Jumat/4 Agustus 2006

Pukul : 10.00 WIB - selesai

Tempat : Studio EKI, Jl. Padang No.32 Manggarai - Jakarta Selatan

(Belakang Pasaraya Manggarai)

Materi audisi : tari dan teater


Kualifikasi :

- Berusia maksimal 25 tahun, kecuali bagi mereka yang memiliki latar

belakang pedidikan tari.

- Membawa CV (Curriculum Vitae) pribadi.

- Membawa foto ukuran postcard seluruh badan & separuh

badan.


Perlengkapan:
Kaos/baju senam, celana olahraga, sepatu keds untuk dipakai selama audisi berlangsung.

Bagi yang berminat untuk mengikuti audisi ini, harap menghubungi Sdri. Herlina di EKI Dance Company, telp. (021) 831 2377, 831-3029, 8379-0618 atau HP 0812-8072803 selambat-lambatnya tanggal 3 Agustus 2006.






Workshop Tari ala Stephanie Thiersch dan Alexandra Naudet


Pada tanggal 24 – 25 Juli 2006 lalu, di studio EKI telah berlangsung sebuah workshop tari yang dipandu Stephanie Thiersch dan Alexandra Naudet dari kelompok tari kontemporer Mouvoir asal Jerman. Program garapan kerjasama Goethe Institut Jakarta, CCF Jakarta dan EKI Dance Company ini diadakan dalam rangkaian tur pentas grup Mouvoir berjudul “Under Green Ground” di Bandung dan Jakarta.

Pelatihan yang diikuti oleh delapan belas peserta asal Jakarta, Bandung dan Solo dari berbagai institusi tari ini berlangsung seru, terutama pada sesi yang memfokuskan diri pada “tatapan mata”. Pada bagian ini, peserta diminta untuk “melupakan” semua teknik mengekspresikan diri yang biasa dilakukan lewat gerak.

“Beautiful!”, demikian Stephanie dan Alexandra mengomentari presentasi peserta yang dibagi atas dua kelompok. “Berbeda dengan workshop lain yang saya lakukan di negara lain sebelum ini, menurut saya, peserta di sini sangat terbuka,” kata Stephanie lagi. Sedangkan menurut Alex – panggilan Alexandra – “mereka sangat kuat, terutama dalam hal berkomunikasi lewat tatapan mata, biasanya hal ini sulit ditemui pada para penari di Eropa saat ini.”

Bisa jadi, salah satu pemicu adalah karena latar belakang tari para peserta ini yang tak seragam. Mulai dari yang sangat ballet sampai tari tradisional Jawa dan Sunda, bahkan ada juga peserta berlatar pelatih paduan suara yang sempat “meramaikan” suasana presentasi dengan pentas vokalnya! Meskipun pada sesi-sesi awal ada penari tradisi yang menyampaikan keraguannya untuk merespons gerak dari peserta lain yang menurutnya sangat kontemporer, hal itu tak berlangsung lama. “Untuk itu kita ada di sini dan memberikan workshop ini,” Alexandra menimpali seraya menyambung, “gerak seni tari tradisi dan kontemporer justru akan memperkaya satu sama lain.”

Dalam dua hari, hal itu terbukti benar. Berbagai materi workshop yang diberikan pada akhirnya menghasilkan sembilan pasang penampil yang membawakan presentasi singkat yang sangat mengesankan.

Di mata para peserta, program ini juga banyak membawa nilai plus. Menurut Sunaryo, salah satu koreografer asal Bandung, “Workshopnya menarik sekali. Saya menemukan metode baru untuk menggali kreativitas lewat potongan pose pada gambar yang kemudian dibentuk menjadi tarian.” Sedangkan kata Yosep, penari EKI, “Tiba-tiba saya diingatkan kembali soal impulse sebagai penari, bagaimana untuk bergerak dari dalam, dari hati, dan tak cuma mengandalkan gerak yang tampak.”

Boby Ari Setyawan, pendiri kelompok tari Independent Expression dari Solo mengaku bahwa materi dan penyampaiannya sangat menarik, luwes dan apresiatif. ”Sayangnya, waktunya terlalu singkat. Saya baru mulai merasa tune-in di hari kedua, eh, workshopnya sudah selesai...” Di sisi lain, workshop ini juga meninggalkan pertanyaan bagi Yuliani yang juga adalah penari EKI. ”Saya tertarik dengan ajakan untuk melupakan teknik tari dan semata mengandalkan kekuatan gerak hati dan pandangan mata yang diajarkan, tapi di satu sisi juga khawatir, apa iya penonton juga bisa menikmatinya sebagai sebuah pertunjukan?” ujarnya.

Demikianlah beragam komentar peserta yang asyik mengikuti pelatihan dua hari ini. Di penghujun